Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Parrawana Mandar Meriahkan Pawai Budaya Nusantara di TMII, Tampil di Hadapan Ribuan Penonton
Advertisement . Scroll to see content

Hanya Tersisa Delapan Pasang, Burung Maleo di Sumare dan Tapandulu Mamuju Terancam Punah Lokal

Jum'at, 07 Agustus 2026 | 16:15 WIB
  • author Suandi
Hanya Tersisa Delapan Pasang, Burung Maleo di Sumare dan Tapandulu Mamuju Terancam Punah Lokal
Foto: Tangkapan layar youtube Lawalata IPB di Sulawesi, khususnya di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara-Gorontalo.

MAMUJU, iNewsMamuju.id - Populasi burung maleo di Desa Sumare dan Desa Tapandulu, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, kini diperkirakan hanya tersisa sekitar delapan pasang. Jumlah tersebut diperoleh dari hasil pemantauan rutin yang dilakukan Komunitas Sahabat Maleo Mamuju di kawasan habitat dan lokasi peneluran satwa endemik Sulawesi itu.

Ketua Sahabat Maleo Mamuju, Abdullah, mengatakan angka tersebut merupakan hasil pengamatan yang dilakukan selama beberapa bulan terakhir di lokasi-lokasi penetasan maleo.

“Populasinya saat ini yang kami pantau di lapangan ada sekitar, kalau yang di Desa Sumare dan Tapandulu sekitar delapan pasang,” ujar Abdullah, saat diwawancarai oleh reporter RRI Mamuju di Desa Sumare, Jumat, 7 Agustus 2026.

Menurut Abdullah, jumlah tersebut menjadi indikator bahwa populasi maleo di kawasan itu masih berada dalam kondisi rentan. Karena itu, diperlukan upaya konservasi yang lebih serius untuk mencegah terjadinya kepunahan lokal.

Selama ini, kata dia, setiap anakan maleo yang berhasil menetas langsung dilepasliarkan ke habitat alaminya. Upaya tersebut dibarengi dengan patroli sederhana di kawasan habitat serta edukasi kepada masyarakat agar tidak mengambil telur maupun merusak lingkungan tempat burung maleo berkembang biak.

“Upayanya ini bagaimana kami terus edukasi kepada masyarakat agar tetap tidak berburu telur dan menjaga habitat burung maleo,” kata Abdullah.

Ia berharap upaya pelestarian tidak hanya dilakukan oleh komunitas, tetapi juga mendapat dukungan dari pemerintah desa, pemerintah kabupaten hingga Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

Menurutnya, perlindungan habitat, pengawasan terhadap aktivitas perburuan telur, serta dukungan kebijakan dan anggaran konservasi menjadi faktor penting agar populasi maleo dapat kembali meningkat.

Tanpa langkah perlindungan yang berkelanjutan, komunitas tersebut khawatir populasi yang kini diperkirakan hanya tersisa delapan pasang di Sumare dan Tapandulu akan terus menurun hingga menghilang dari habitat alaminya.

Editor: A. Rudi Fathir

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut