Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sandeq Silumba 2026 Resmi Ditutup, Para Pemenang Langsung Terima Hadiah
Advertisement . Scroll to see content

Menembus Jalan Batu demi Melayani Warga, Perjuangan 9 Nakes Puskesmas Tapalang ke Pelosok Mamuju

Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:15 WIB
  • author Suadi
Menembus Jalan Batu demi Melayani Warga, Perjuangan 9 Nakes Puskesmas Tapalang ke Pelosok Mamuju
Tim Puskesmas Tapalang saat perjalanan pulang dan ban bocor di Desa Bela, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Selasa (4/8/2026). Foto: Suandi/iNewsMamuju.id

MAMUJU, iNewsMamuju.id - Lumpur menempel di ban kendaraan. Batu-batu besar berserakan di sepanjang jalan. Di beberapa titik, kendaraan harus bergerak perlahan agar tidak tergelincir atau terperosok.

Di tengah kondisi jalan yang jauh dari kata mudah itu, Nurhasanah Azis (29) bersama delapan tenaga kesehatan lainnya tetap melanjutkan perjalanan.

Bukan untuk berwisata. Mereka sedang menuju Desa Bela dan Desa Kopeang, wilayah yang berada sekitar 20 kilometer di sebelah barat Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Tujuan mereka satu: memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang selama ini menghadapi keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan.

Perjalanan itu berlangsung pada 2-4 Agustus 2026.

Nurhasanah, yang akrab disapa Ana, merupakan seorang tenaga kesehatan di Puskesmas Tapalang. Di rumah, ia adalah ibu dari dua anak, Zayn Khalid Wawan (5) dan Zehan (2).

Namun selama menjalankan tugas ke pelosok, kedua buah hatinya harus ia titipkan kepada suaminya.

Suaminya yang bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Kesehatan Sulawesi Barat menjadi orang yang menjaga kedua anak mereka selama Ana menjalankan tugas.

Bagi Ana, meninggalkan anak-anak bukan perkara mudah.

Tetapi ia tahu, ada anak-anak lain yang juga menunggu untuk diperiksa kesehatannya.

“Ini demi pemeriksaan kesehatan gratis,” kata Ana, Selasa (18/8/2026).

Menumpang Hartop Tua

Perjalanan menuju Desa Bela dan Desa Kopeang ditempuh menggunakan mobil hartop tua yang telah dimodifikasi agar mampu melewati medan berat.

Kendaraan itu menjadi tumpuan mereka untuk menembus jalan yang sebagian masih berupa tanah dan dipenuhi bebatuan.

Dari foto perjalanan yang dibagikan, kendaraan tampak harus melewati medan yang terjal. Ban besar yang telah dipasangi rantai harus mencengkeram permukaan jalan agar kendaraan tetap bisa bergerak.

Sementara di bak belakang, sejumlah tenaga kesehatan duduk berdesakan bersama perlengkapan yang mereka bawa.

Tidak ada perjalanan yang benar-benar mulus.

Ban kendaraan mereka bahkan sempat bocor ketika perjalanan menuju lokasi. Ketika perjalanan pulang, masalah serupa kembali terjadi.

Kali ini, ban kendaraan bocor setelah terkena batu tajam.

Mereka terpaksa berhenti di tengah perjalanan.

Lima jam mereka menunggu hingga kendaraan dapat kembali melanjutkan perjalanan.

Bagi sebagian orang, lima jam mungkin terasa panjang.

Namun bagi sembilan tenaga kesehatan tersebut, waktu itu adalah bagian dari harga yang harus dibayar untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap sampai kepada warga di daerah yang sulit dijangkau.

Menyasar Anak-anak Sekolah

Setibanya di lokasi, lelah perjalanan tidak membuat mereka berhenti.

Mereka langsung menjalankan pemeriksaan kesehatan gratis yang menyasar sejumlah sekolah.

Di Desa Bela, pelayanan dilakukan di SD Sandahuai dan SD Salumanyang.

Sementara di Desa Kopeang, mereka menyasar SDI Bela dan SDN Rantemario.

Ana mengatakan dirinya merasa senang bisa bertemu dan memberikan pemeriksaan kesehatan kepada anak-anak yang tinggal di wilayah dengan akses kesehatan terbatas.

Bagi dirinya, wajah anak-anak yang mereka layani menjadi alasan untuk tetap bertahan meski perjalanan menuju lokasi sangat melelahkan.

“Wajah mereka membuat lelah kita hilang,” ujar Ana.

Kalimat itu sederhana.

Namun perjalanan yang mereka lalui untuk sampai ke tempat anak-anak tersebut tidak sederhana.

Mereka harus melewati jalan yang sulit, menggunakan kendaraan tua yang dimodifikasi, menghadapi ban bocor, hingga menunggu berjam-jam di tengah perjalanan.

Semua itu dilakukan agar anak-anak di pelosok tetap mendapatkan hak untuk diperiksa kesehatannya.

Ada Warga yang Tak Sempat Sampai Puskesmas

Persoalan akses jalan di wilayah tersebut bukan sekadar membuat perjalanan menjadi lama.

Menurut Ana, kondisi akses menuju fasilitas kesehatan juga menyimpan persoalan yang lebih serius.

Setiap tahun, sedikitnya dua warga disebut meninggal dunia dalam perjalanan menuju puskesmas.

Jarak dan kondisi jalan menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi warga ketika membutuhkan pelayanan kesehatan.

Warga pun beberapa kali mendesak agar akses jalan diperbaiki.

Namun hingga perjalanan tim kesehatan tersebut dilakukan, perbaikan jalan yang diharapkan warga belum juga terealisasi.

Kondisi itu membuat kehadiran tenaga kesehatan di tengah masyarakat menjadi sangat berarti.

Sebab, bagi warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan, mendatangi puskesmas bukan perkara sederhana.

Jalan yang sulit bisa menjadi penghalang, terutama ketika seseorang membutuhkan pertolongan kesehatan dalam kondisi darurat.

Sembilan Orang, Satu Misi

Ana tidak berangkat seorang diri.

Delapan tenaga kesehatan lainnya ikut dalam perjalanan tersebut. Mereka datang dengan bidang keahlian yang berbeda, sehingga pelayanan yang diberikan kepada masyarakat tidak hanya menyangkut pemeriksaan umum.

Mereka adalah Nurjannah, SKM, yang menangani promosi kesehatan; Bd. Nirwana Nur, S.ST, selaku bidan koordinator; Rukmini Achmad, A.Md.Gz, sebagai nutrisionis; Pratwo Gagarin, A.Md.Kes dan Suhardi, SKM, dari bidang kesehatan lingkungan.

Kemudian Surni Wahyuni, A.Md.Keb, sebagai bidan; Diva Putri Anggraini, A.Md.Kes, sebagai terapis gigi; serta Bd. Almayasanti, S.ST, selaku penanggung jawab remaja.

Sembilan orang dengan latar belakang berbeda itu menempuh perjalanan yang sama.

Mereka membawa perlengkapan kesehatan dan mendatangi sekolah-sekolah yang sulit dijangkau.

Di tengah keterbatasan infrastruktur, mereka mencoba memastikan bahwa pelayanan kesehatan tidak berhenti hanya karena jalan menuju lokasi sulit dilalui.

Lelah di Jalan, Terbayar di Depan Anak-anak

Perjalanan pulang mungkin menjadi bagian yang paling menguji kesabaran.

Ban bocor akibat batu tajam membuat mereka harus kembali berhenti. Lima jam berlalu sebelum perjalanan dapat dilanjutkan.

Namun bagi Ana, pengalaman tersebut tidak membuatnya kapok.

Justru dari perjalanan itu ia melihat secara langsung bagaimana kondisi masyarakat yang selama ini hanya mungkin ia dengar dari cerita.

Ia melihat jalan yang harus dilalui warga ketika hendak mendapatkan pelayanan kesehatan.

Ia melihat anak-anak yang harus tumbuh di wilayah dengan akses yang tidak mudah.

Dan ia melihat bagaimana kehadiran tenaga kesehatan, meski hanya dalam sebuah kunjungan singkat, dapat berarti bagi mereka.

Ana tahu, perjalanan seperti itu tidak akan mengubah kondisi jalan dalam semalam.

Namun setidaknya, kehadiran mereka membuat pelayanan kesehatan datang lebih dekat kepada masyarakat.

Di antara jalan berbatu, ban yang bocor, kendaraan tua, dan waktu tempuh yang panjang, sembilan tenaga kesehatan Puskesmas Tapalang memilih untuk tetap datang.

Mereka meninggalkan keluarga untuk sementara, menempuh medan berat, lalu kembali dengan pengalaman yang mungkin jauh lebih berharga: melihat langsung anak-anak di pelosok mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

Sebab bagi mereka, pengabdian tidak selalu berlangsung di ruangan puskesmas yang nyaman.

Kadang, pengabdian harus ditempuh melalui jalan berlumpur, bebatuan tajam, dan perjalanan berjam-jam.

Editor: A. Rudi Fathir

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut