MAJENE, inews Mamuju.id - Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten Majene resmi berakhir. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bersama Kementerian Kesehatan kini fokus memperkuat benteng sistem kesehatan daerah agar kasus serupa tak terulang.
Langkah tersebut diwujudkan melalui agenda After Action Review (AAR) KLB Campak yang digelar pada 22–23 September 2026 di Majene. Evaluasi ini melibatkan Tim Gerak Cepat (TGC), puskesmas, RSUD Majene, hingga jajaran pemerintah desa.
Sebelumnya, KLB Campak ditetapkan lewat Keputusan Bupati Majene pada Mei 2026 usai ditemukannya tiga kasus konfirmasi. Berkat respons cepat dan terintegrasi, tidak ada lagi penularan baru selama dua kali masa inkubasi, sehingga status KLB resmi dicabut.
Evaluasi partisipatif ini membedah tujuh pilar utama, mulai dari surveilans, laboratorium, manajemen kasus, hingga komunikasi risiko dan koordinasi lintas sektor.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa hasil evaluasi ini harus bermuara pada aksi nyata di lapangan.
“Evaluasi ini penting agar pengalaman penanganan KLB menjadi pembelajaran bersama dan rekomendasinya ditindaklanjuti secara konkret. Kita ingin sistem kesehatan semakin siap,” tegas Nursyamsi.
Penguatan sistem kesehatan ini sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera,” yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas pelayanan dasar masyarakat.
Hasil akhir AAR ini dirumuskan ke dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk memperketat cakupan imunisasi, deteksi dini, dan tata kelola data Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) di seluruh wilayah Sulbar.
Editor : A. Rudi Fathir
Artikel Terkait
