get app
inews
Aa Text
Read Next : DPRD Nilai RSUD Sulbar Belum Siap Hadapi Sistem Layanan Baru, Belum Punya CT Scan Layak

Musim Kemarau, BPBD Sulbar Ingatkan Bahaya Membakar Daun Kering Sembarangan

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:14 WIB
header img
Damkar Mamuju saat memadamkan api karhutlah di Lingkungan Sese, Simboro, Mamuju, Sabtu (15/8/2026). Foto: Suandi/iNewsMamuju.id

MAMUJU, iNewsMamuju.id - Daun yang gugur kerap dianggap sebagai sampah yang harus segera dibersihkan. Namun, bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Barat, daun kering justru merupakan bagian dari siklus alami yang dapat dimanfaatkan sekaligus menjadi pintu masuk untuk mengedukasi masyarakat tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Barat Muhammad Yasir Fattah mengatakan, daun yang jatuh ke tanah tidak berhenti sebagai limbah. Secara alami, daun akan terurai menjadi bahan organik yang memperkaya unsur hara, menyuburkan tanah, dan membantu tumbuhnya tanaman baru.

Pesan tersebut disampaikan Yasir pada Minggu (16/8/2026), di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi bencana yang berkaitan dengan musim kemarau.

“Daun yang gugur bukan akhir dari kehidupan. Ia kembali ke bumi, menjadi nutrisi, menyuburkan tanah, lalu mendukung tumbuhnya kehidupan baru. Inilah siklus bumi yang harus kita jaga bersama,” ujar Yasir Fattah.

Menurut dia, pemahaman sederhana mengenai siklus daun tersebut dapat dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat dalam mengelola lingkungan. Salah satunya dengan tidak membakar daun kering atau sampah organik secara sembarangan.

Daun yang menumpuk di halaman atau lahan, kata Yasir, dapat diolah menjadi kompos maupun bahan organik. Cara itu dinilai lebih aman dibandingkan membakarnya, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.

Kebiasaan membakar daun dan sampah di lahan terbuka berpotensi menjadi sumber api yang sulit dikendalikan. Dalam kondisi angin kencang dan vegetasi yang mengering, api dapat dengan cepat merambat ke area yang lebih luas.

Karena itu, BPBD Sulawesi Barat mengingatkan masyarakat di seluruh wilayah provinsi tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan yang memiliki potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Upaya pencegahan, lanjut Yasir, tidak harus dimulai dengan langkah besar. Masyarakat dapat berkontribusi dengan mengelola sampah organik, menjaga kebersihan lingkungan, menghijaukan kembali lahan yang terbuka, serta segera melaporkan jika menemukan titik api.

Langkah tersebut penting karena penanganan bencana tidak semestinya baru dilakukan setelah api membesar atau bencana terjadi.

“Kesadaran menjaga lingkungan merupakan bagian dari membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana,” pungkasnya.

BPBD Sulawesi Barat berharap kesadaran tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat. Selain membantu menjaga keseimbangan lingkungan, pengelolaan daun dan bahan organik tanpa pembakaran juga menjadi salah satu langkah sederhana untuk mengurangi risiko karhutla.

Editor : A. Rudi Fathir

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut