Turun Jadi 10 Persen, Beras dan Rokok Masih Penyumbang Terbesar Kemiskinan di Sulbar
MAMUJU, iNewsMamuju.id - Persentase penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) per Maret 2026 mencatatkan rekor terendah dalam kurun lima tahun terakhir, yakni menyentuh angka 10,00 persen. Meskipun secara umum angka kemiskinan menurun, BPS mencatat adanya fenomena kontras: jumlah warga miskin di wilayah perkotaan justru mengalami kenaikan.
Tak hanya itu, komoditas beras dan rokok kretek filter terbukti masih menjadi faktor dominan penyumbang garis kemiskinan di Sulbar. Kepala BPS Sulbar Suri Handayani mengungkapkan, persentase penduduk miskin pada Maret 2026 turun 0,18 persen poin dibanding September 2025 (10,18 persen) dan melandai 0,41 persen poin dibanding Maret 2025 (10,41 persen).
"Jumlah dan persentase penduduk miskin terendah sejak periode Maret 2021 hingga Maret 2026 tercatat pada Maret 2026 ini, yaitu sebanyak 148,06 ribu jiwa," ujar Suri Handayani saat konferensi pers rilis data di Aula BPS Sulbar, Jl RE Martadinata, Simboro, Mamuju, Rabu (5/8/2026).
Di balik penurunan angka agregat, BPS Sulbar mencatat pergeseran pola kemiskinan antara perkotaan dan perdesaan periode September 2025 ke Maret 2026.
Wilayah Perkotaan: Jumlah warga miskin meningkat dari 23,86 ribu jiwa (September 2025) menjadi 24,64 ribu jiwa (Maret 2026).
Wilayah Perdesaan: Jumlah warga miskin berhasil ditekan dari 126,02 ribu jiwa menjadi 123,42 ribu jiwa.
"Secara umum dibanding September 2025, terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin di perkotaan, sebaliknya terjadi penurunan jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan," jelas Suri.
BPS menetapkan Garis Kemiskinan (GK) Sulbar pada Maret 2026 sebesar Rp 519.404 per kapita per bulan. Untuk satu rumah tangga miskin yang rata-rata memiliki 5–6 anggota keluarga, beban pengeluaran minimum mencapai Rp 2.809.976 per bulan.
Dari angka tersebut, peran komoditas makanan masih sangat dominan menyumbang 78,11 persen terhadap garis kemiskinan, sedangkan bukan makanan hanya 21,89 persen. Menariknya, dua komoditas utama yang paling membebani garis kemiskinan masyarakat Sulbar adalah beras dan rokok.
- Beras Perkotaan: Menyumbang 33,81 persen terhadap Garis Kemiskinan Makanan.
- Perdesaan: Menyumbang 31,63 persen.
- Rokok Kretek Filter Perkotaan: Menyumbang 11,43 persen. *
- Perdesaan: Menyumbang 14,55 persen (bahkan melebihi komoditas ikan tongkol/tuna/cakalang dan telur ayam).
Sementara pada kelompok bukan makanan, biaya perumahan (10,49% di desa; 8,98% di kota) serta bensin dan listrik menjadi penopang beban non-makanan terbesar.
Faktor Pendorong dan Posisi Sulbar di Sulawesi Suri menjelaskan, penurunan kemiskinan di Sulbar ditopang kondisi ekonomi makro yang stabil, di antaranya:
- Pertumbuhan Ekonomi: Tumbuh 5,33 persen (y-on-y) pada Triwulan I 2026.
- Pengangguran Turun: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2026 turun ke 2,93 persen.
- Produksi Pangan: Produksi beras Jan–Mar 2026 naik 9,6 ribu ton dibanding Triwulan III 2025.
- Bantuan Sosial: Penyaluran program MBG, Bantuan Sembako, PKH, dan BPNT berjalan efektif pada Triwulan I 2026.
Di tingkat regional, seluruh provinsi di Pulau Sulawesi mencatatkan penurunan kemiskinan. Sulawesi Barat saat ini menempati posisi ke-3 dengan tingkat kemiskinan terendah di Pulau Sulawesi, berada di bawah Sulawesi Utara (6,32%) dan Sulawesi Selatan (7,24%).
"Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga mengalami penurunan. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati Garis Kemiskinan dan ketimpangan di antara penduduk miskin makin mengecil," pungkas Suri.
Editor : A. Rudi Fathir