MAMUJU, iNewsMamuju.id – Febrianto Wijaya mendapat kepercayaan memimpin PSSI Sulawesi Barat (Sulbar) periode 2026–2030. Ia terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) dengan agenda Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI Sulbar, di Matos Mamuju, Sabtu (7/11/2026).
Namun, pekerjaan Febrianto tidak berhenti setelah terpilih. Sejumlah persoalan sepak bola Sulbar sudah menanti untuk dibenahi, mulai dari kompetisi yang belum berjalan optimal, kondisi klub, hingga tata kelola organisasi.
Dalam sambutannya, Febrianto menyebut jabatan yang kini diembannya bukan sekadar posisi dalam organisasi. Ada tanggung jawab besar untuk membawa sepak bola Sulbar berkembang selama empat tahun ke depan.
Ia pun tidak ingin kepengurusan baru hanya sibuk menyusun janji. Program yang dibuat harus bisa dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh insan sepak bola di daerah.
"Amanah ini adalah tanggung jawab besar yang harus saya pertanggungjawabkan melalui kerja nyata. Saya tidak ingin hadir dengan janji. Kita harus hadir dengan program dan kerja yang nyata," tegasnya.
Febrianto kemudian memaparkan tiga hal yang menjadi prioritasnya. Salah satunya membenahi kompetisi dan pembinaan pemain sejak usia dini.
Liga 4 Sulbar dan Piala Soeratin kelompok usia 13 dan 15 tahun masuk dalam agenda yang ingin diperhatikan. Pembinaan juga tidak hanya menyasar pemain, tetapi menyangkut kualitas pelatih dan wasit.
Selama ini, biaya pendidikan dan pelatihan menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan. Karena itu, Febrianto ingin lebih banyak kegiatan pelatihan digelar di Sulbar agar biaya peserta bisa ditekan.
Bahkan, ia menargetkan subsidi bagi peserta pelatihan dapat ditingkatkan hingga 70 sampai 80 persen.
Persoalan klub juga masuk dalam daftar pekerjaan rumah kepengurusan baru. Febrianto ingin klub-klub di Sulbar kembali mendapat ruang untuk berkembang, termasuk melalui dukungan sponsor dan kemitraan.
Baginya, PSSI harus menjadi rumah bersama bagi seluruh klub, bukan hanya organisasi yang mengurus kompetisi. Klub juga perlu memiliki peta jalan pengembangan agar bisa meningkatkan kapasitas dan bersaing di level yang lebih tinggi.
Ia turut melihat peluang penyelenggaraan kompetisi di wilayah yang lebih dekat, seperti kawasan IKN. Selain membuka kesempatan bertanding, cara itu dinilai lebih efisien dari sisi pembiayaan.
Hal lain yang tak kalah penting adalah pembenahan organisasi. Febrianto ingin hubungan PSSI Sulbar dengan seluruh asosiasi dan elemen sepak bola berjalan lebih baik.
Mulai dari PSSI kabupaten, asosiasi futsal, asosiasi pelatih, sepak bola wanita, hingga sepak bola pantai perlu mendapat ruang dalam kepengurusan.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pilihan dalam KLB tidak terbawa ke dalam kepengurusan. Semua klub harus mendapat perlakuan yang sama, termasuk mereka yang sebelumnya memiliki pilihan berbeda.
"Siapa pun yang menjadi juara Liga 4, siapa pun juara Soeratin, PSSI harus menjadi bapak bagi seluruh klub dan SSB yang ada," ujar Febrianto.
Perhatian terhadap sepak bola wanita juga menjadi bagian dari rencananya. Febrianto melihat ada potensi atlet perempuan di Sulbar yang bisa dikembangkan, termasuk dari Kabupaten Mamasa.
Di sisi lain, pembenahan sepak bola tidak bisa hanya dibebankan kepada PSSI. Dukungan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten juga dibutuhkan, terutama untuk memperbaiki stadion dan menyediakan fasilitas olahraga yang memenuhi standar.
Febrianto turut menyampaikan apresiasi kepada pengurus sebelumnya. Ia juga berharap PSSI pusat memberikan arahan dan dukungan agar program kepengurusan baru bisa berjalan.
Ia mengajak seluruh insan sepak bola Sulbar kembali bersatu setelah proses pemilihan. Perbedaan pilihan selama KLB, kata dia, tidak boleh menjadi penghalang untuk bekerja bersama.
"Kemarin kita mungkin memiliki pilihan dan pendapat berbeda. Namun hari ini kita adalah keluarga besar sepak bola Sulawesi Barat. Mari saling merangkul dan membangun kolaborasi bersama," tuturnya
Editor : Lukman Rahim
Artikel Terkait
