Krisis Air Bersih Landa 9 Pulau Berpenghuni di Kepulauan Bala-balakang Mamuju
MAMUJU, iNewsMamuju.id - Dampak musim kemarau panjang mulai mengancam kehidupan warga di gugusan Kepulauan Bala-balakang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Krisis air bersih yang terjadi memaksa masyarakat berjuang keras demi mendapatkan pasokan air tawar, bahkan sekadar untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Alindung, mengungkapkan situasi kritis ini berdasarkan informasi langsung dan koordinasi dengan rekan-rekannya serta pihak pemerintah setempat di Kepulauan Bala-balakang.
"Saat ini di sana betul-betul tidak ada air tawar untuk dipakai memasak. Warga bergantung penuh pada air tadah hujan sebagai satu-satunya sumber air tawar, dan dampak kemarau ini membuat cadangan tersebut sudah benar-benar habis," ujar Alindung, Kamis (20/8/2026).
Dari total 12 pulau yang ada di gugusan Kepulauan Bala-balakang, sebanyak 9 pulau berpenghuni dilaporkan mengalami krisis air bersih yang serupa. Pulau-pulau yang terdampak antara lain:
- Pulau Ambo
- Pulau Seloang
- Pulau Labia
- Pulau Lamuda'ang
- Pulau Popoongan
- Pulau Samataha
- Pulau Saboeyang
- Pulau Sallisinga
- Pulau Sabakattang
(Sementara Pulau Malamber, Sumanga', dan Tappilaga'ang tercatat tidak berpenghuni).
Berdasarkan rekaman video dari lokasi, kondisi di dermaga pelabuhan memperlihatkan suasana yang memprihatinkan sekaligus sibuk. Di bawah sengatan terik matahari laut yang menyengat, puluhan warga didominasi kaum perempuan dan ibu-ibu tampak menyemut di sekitar penampungan dan dermaga.
Warga berbondong-bondong membawa berbagai wadah penampung air, mulai dari jeriken plastik kapasitas 5–20 liter, galon air minum kemasan, hingga ember dan baskom kecil.
Mereka saling berdesakan dan mengantre dengan sabar demi mengisi wadah masing-masing dari tandon (toren) air besar yang diangkut menggunakan kapal. Beberapa warga bahkan memanfaatkan gerobak dorong roda tiga untuk mengangkut belasan galon dan jeriken sekaligus menuju kediaman mereka.
"Beginilah kondisi di pulau. Saking susahnya air bersih, biarpun panas terik seperti apa, warga tetap antre dan berjuang," terdengar suara perekam video menggambarkan situasi di lokasi.
Untuk mengatasi krisis ini, pihak kecamatan, kepala desa, kepala dusun, dan tokoh masyarakat telah menggelar rapat darurat. Hasil kesepakatan memutuskan bahwa pasokan air bersih akan disuplai dari daratan Mamuju menggunakan tandon air yang diangkut Kapal Perintis.
Pihak warga dan pemerintah setempat juga telah berkoordinasi dengan tim Pemadam Kebakaran (Damkar) serta relawan kebencanaan di Mamuju untuk menyuplai air tawar ke tandon-tandon air di atas kapal sebelum diberangkatkan.
"Kami menunggu informasi kedatangan kapal dari Bala-balakang. Jika kapal sudah siap, tim pasokan air siap dikerahkan," terang pihak Damkar Rescue dalam pesan koordinasinya.
Krisis air bersih ini semakin berat mengingat akses geografis Kepulauan Bala-balakang yang sangat terpencil. Secara administratif, wilayah ini merupakan kecamatan terluar Kabupaten Mamuju.
Namun secara geografis, letaknya justru berada di tengah Selat Makassar dan lebih dekat ke wilayah Kalimantan Timur/Ibu Kota Nusantara (IKN).
Jarak dari Pusat Kota Mamuju: Sekitar 110 hingga 118 mil laut (±200 kilometer).
Waktu Tempuh Jalur Laut: Memakan waktu sekitar 10 hingga 16 jam perjalanan, tergantung pada kecepatan kapal dan kondisi cuaca/gelombang laut.
Kondisi jarak tempuh yang jauh ini menjadi tantangan besar dalam pendistribusian bantuan logistik dan air bersih secara berkala ke wilayah pulau-pulau tersebut.
Editor : A. Rudi Fathir